Saturday, April 11, 2020

thumbnail

Review Erased, Memahami Diri Sendiri Lewat Orang Lain

Boku Dake ga Inai Machi atau Erased mungkin bukan anime dan manga yang terkenal di Indonesia. Manga yang dibuat oleh Kei Sanbe ini terbit dari tahun 2013 sebanyak 8 volume dan mendapatkan adaptasi anime yang tayang pada awal tahun 2016. Meskipun tidak begitu terkenal dan tidak punya banyak fans di Indonesia, Boku Dake ga Inai Machi merupakan salah satu anime dan manga yang berhasil menyampaikan pesan yang sangat “relatable” atau berhubungan dengan kehidupan sehari – hari.

Boku Dake ga Inai Machi review


Bahkan manga ini bisa merubah hidup beberapa orang,termasuk saya, author dari TulisanPribadi. Oleh karena itu, kali ini kita akan membahas tentang pesan di dalam manga dan anime Boku Dake ga Inai Machi atau Erased  yang bisa merubah hidup kita.

Boku Dake ga Inai Machi Sinopsis Indonesia


Sebelum masuk ke pembahasan utama, kita jelaskan dulu sinopsis Erased. Tanpa memberi spoiler yang terlalu banyak, jadi Erased ini bercerita tentang sebuah kasus pembunuhan yang terjadi antara tahun 1988 dan 2003.

Cerita berawal dari seorang komikus bernama Fujinuma Satoru yang memiliki kekuatan berupa pengulangan selama beberapa menit ketika akan ada kejadian  buruk di sekitarnya. 18 tahun lalu, pada tahun 1988, Satoru terjadi pembunuhan berantai yang mengincar anak kecil ketika ia masih SD.

Dan 18 tahun kemudian, pada tahun 2006, pembunuhan dengan pelaku yang sama kembali terjadi dan orang terdekatnya yang menjadi korban. Sejak saat itu, Satoru bertekad untuk mengungkap kasus pembunuhan berantai ini dengan memanfaatkan kekuatan pengulangannya.

Buat kalian yang belum tahu, Boku Dake ga Inai Machi memiliki genre psychological, slice of life, misteri dan sedikit supernatural. Baik manga, anime, live action maupun versi Netflix adaptation memiliki cerita yang sama secara garis besar.

Saya sendiri cuma baca versi manga, anime dan Netflix adaptation – nya. Jadi, semua hal yang akan dibahas di sini berdasarkan ketika versi tersebut. Jangan lupa, artikel ini akan mengandung banyak spoiler dan reveal.

~~~ Spoiler Alert Mulai Dari Sini ~~~

How to Love Your Mother


Boku Dake ga Inai Machi sangat berfokus pada hubungan Satoru dan ibunya, Fujinuma Sachiko. Sebab meskipun tidak dijelaskan di versi anime, dalam versi manga dijelaskan bahwa Satoru dibesarkan seorang diri oleh ibunya.

Salah satu scene paling kuat yang menggambarkan bagaimana kita harus memanfaatkan momen bersama orang tua, khususnya ibu, adalah ketika Satoru pertama kali melihat ibunya di masa lalu setelah mengalami kembali pada dirinya 18 tahun lalu.

Boku Dake ga Inai Machi review


Tepatnya ketika Satoru makan dengan ibunya yang mana tidak pernah ia rasakan di kehidupan dewasanya bahkan hingga ia tidak sadar momen tersebut pernah ada. Memang, banyak orang bilang bahwa masa kecil adalah masa – masa paling menyenangkan dalam hidup.

Namun masa kecil tidak akan terulang dan cepat atau lambat kenangan serta memori kita di masa lalu akan terlupakan. Khususnya ketika kita memasuki tahap hidup baru, baik ketika mulai kuliah, kerja, atau menikah.

Apalagi, tidak ada yang abadi di dunia ini. Cepat atau lambat orang yang pernah bersama di masa kecil kita akan menuju keabadian. Bukan berarti kita harus mengunci diri dan menghindari memiliki kenangan indah bersama orang lain, apalagi orang tua, agar tidak berlarut – larut dalam kesedihan di masa depan.

Namun yang saya dapatkan dari scene ini adalah betapa pentingnya memanfaatkan waktu bersama orang – orang terdekat. Baik itu orang tua, keluarga, teman, saudara, atau siapapun.

Tetapi saya juga sadar, tidak semua orang beruntung dan memiliki keluarga yang harmonis, tumbuh dengan keluarga yang supportive atau memiliki teman dan orang terdekat yang peduli. Sebab pastinya setiap orang memiliki masalah dan hidup dalam kondisi yang berbeda – beda.

Kayo Hinazuki Breakfast Scene Taught Me to be Grateful


Berbeda dengan Satoru yang hidup dengan keluarga yang supportive, Kayo Hinazuki hidup dengan orang tua yang abusive atau di jaman sekarang disebut toxic parenting. Seperti yang disebutkan di point sebelumnya, tidak semua orang beruntung bisa memiliki orang tua dan orang terdekat yang supportive.

Hal ini pun menjadi salah satu fokus dalam anime dan manga Boku Dake ga Inai Machi. Seorang suami akan merasa stress karena pekerjaannya, di rumah ia akan melampiaskan emosi dan pikirannya kepada wanita atau istrinya. Lalu sang istri akan melampiaskan rasa stress-nya kepada anak.

Kira – kira seperti itu yang saya mengerti dari potongan kisah masa lalu Akemi Hinazuki, ibu dari Kayo. Sebelumnya, Akemi mengalami KDRT atau perilaku abusive yang sama dari suaminya. Ketika sudah bercerai, rasa stress dan emosi Akemi ia lampiaskan pada anaknya melalui perbuatan yang sama.

Periaku seperti ini tentu akan semakin memburuk dari waktu ke waktu. Sehingga sekali lagi saya sangat bersyukur bisa hidup di keluarga yang terbilang “normal”. Bukan hanya itu, hal ini juga membuat pikiran saya semakin terbuka dalam berempati dengan teman – teman atau orang lain yang mungkin memiliki keluarga kurang perhatian dan supportive.

Tetapi ada satu scene yang benar – benar mengetuk hati dan pikiran saya. Yaitu dimana pertama kalinya Kayo bisa merasakan masakan rumahan sebagai sarapan, bukan makanan instant atau bahkan uang pecahan. Scene ini ada di episode 8 pada anime dan volume 4 chapter ke 23.

Boku Dake ga Inai Machi review


Seperti yang saya bilang, kondisi abusive parent seperti ini bisa memburuk dari waktu ke waktu. Kayo yang awalnya masih bisa merasakan makanan kemasan atau mie instant, berubah menjadi hanya sepotong roti, dan memburuk menjadi hanya uang recehan untuk membeli sarapan sendiri.

Dan waktu bisa merasakan lagi sarapan buatan rumah untuk pertama kalinya (silahkan liat sendiri biar tetep dapet “feel”-nya nanti), mungkin reaksi yang sama lah yang akan terjadi di dunia nyata. Apalagi untuk anak masih usia 10 tahun yang harusnya tumbuh dengan kasih sayang, Kayo justru tumbuh dengan perilaku kekerasan dari orang tuanya.


Grim Reaper and Past Mistake


Melihat Satoru yang bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua kesalahan di masa lalunya, pasti kita juga ingin punya kemampuan yang sama. Tapi apa benar merubah masa lalu artinya memperbaiki masa depan?

Jujur, ketika baru baca volume pertama dari manga – nya saya juga mau punya kemampuan yang sama. Tapi ada satu bagian baik di dalam manga maupun anime – nya yang cukup unik.

Yaitu pada episode ke 6 di anime atau chapter ke 18 di dalam manga. Yaitu ketika Satoru menjelaskan tentang cerita manga yang sedang ia buat tentang seorang dewa kematian yang membuat kesalahan.

Boku Dake ga Inai Machi review


Dikisahkan ada seorang dewa kematian atau grim reaper yang melakukan kesalahan hingga membuat satu nyawa anak kecil melayang. Kemudian, ia kembali ke masa lalu dan berusaha memperbaiki kesalahannya. Namun semakin ia berusaha memperbaiki kesalahannya, semakin banyak orang lain yang terluka. Demi menyelamatkan satu nyawa anak kecil, ia harus mengorbankan lebih banyak kehidupan lainnya. Meskipun sang dewa kematian percaya bahwa yang ia lakukan itu benar.

Tapi apa artinya? Yang bisa saya pahami adalah memperbaiki masa lalu tidak bisa menjamin masa depan kita akan menjadi lebih baik. Sebenarnya hal ini juga secara tidak langsung dijelaskan dalam manga Boku Dake ga Inai Machi.

Untuk memperbaiki masa lalunya, bisa hidup dengan teman – temannya, dan mengembalikan ibunya yang dibunuh, Satoru harus mengorbankan 15 tahun hidupnya dalam koma. Seperti yang dialami sang dewa kematian yang harus mengorbankan lebih banyak nyawa disekitarnya untuk nyawa satu anak.

Dalam contoh lain kita bisa melihat film Avengers: Endgame. Untuk mengembalikan setengah populasi di bumi, Tony Stark harus rela mengorbankan nyawanya. Padahal ia bisa hidup dengan tenang bersama istri dan anaknya bila tidak kembali dan memperbaiki masa lalu.

Jadi, walaupun kalian memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua kesalahan kalian, apakah kalian sudah siap untuk mengorbankan lebih banyak nyawa di sekitar kalian seperti dewa kematian? Apakah kalian siap harus melewati 15 tahun koma dan mengulang kehidupan dari awal seperti Satoru? Atau apakah kalian sudah siap harus mengorbankan nyawa kalian sendiri seperti Tony Stark?

Pada akhirnya, tidak akan ada jawaban yang berakhir “Sugar and Rainbow”. Semua pilihan yang kita lakukan pasti akan berujung dengan hal baik dan buruk. Yang penting adalah, pikirkan matang – matang tiap pilihan yang akan kita ambil. Karena sudah pasti akan ada hal buruk yang kita rasakan, pikirkan apakah hal tersebut sepadan dengan hal baik yang diperoleh. Dan apakah kita siap menerima atau menanggung hal buruk tersebut.

Men's Determination


Pelajaran terakhir yang diajarkan dalam manga dan anime Boku Dake ga Inai Machi adalah tentang men’s determination atau keinginan manusia. Sebenarnya, bagian ini lebih saya rasakan ketika membaca manga daripada anime-nya.

Keadaan Satoru yang harus belajar berjalan dari awal setelah 15 tahun koma mungkin bisa dibilang mirip dengan keadaan saya saat ini. Buat kalian yang belum tahu, satu – satunya author dari TulisanPribadi ini sudah sekitar 3 tahun punya penyakit yang memaksa saya untuk belajar berjalan dari awal lagi. Mungkin saya akan membahas tentang penyakit ini di artikel lain.

Tetapi selama 3 tahun ini, bisa dibilang saya kehilangan arah hidup. Bahkan selama beberapa bulan kebelakang ini saya tidak memiliki semangan untuk bisa sembuh dan berjalan lagi. Rasanya alasan saya hidup hanya karena saya sudah dilahirkan dan belum waktunya meninggal.

Tapi Satoru memiliki pemikiran yang berbeda. Meskipun sudah 15 tahun berlalu, ia masih memiliki tujuan yang sama. Bahkan keinginannya untuk mencapai tersebut semakin memotivasi dirinya untuk berlatih lebih keras lagi.

Di episode 11 dalam anime atau chapter 36 dalam manga. Ketika Satoru tanya kapan ia bisa kembali berjalan dan dokter Kitamura menjawab “ Well, it depends on you”, itu adalah pertanyaan dan jawaban yang sama yang saya terima.

Boku Dake ga Inai Machi review


Namun, Satoru memiliki reaksi yang jauh lebih baik dari pada yang saya berikan. Karena tidak ada motivasi untuk sembuh dan tujuan hidup, dulu saya sempat lebih memilih “menikmati” keadaan dibandingkan harus berubah.

Tetapi Boku Dake ga Inai Machi memberi saya motivasi baru untuk bisa berubah. Melihat semua orang disekitar saya sudah berkorban, rasanya saya mulai sadar bahwa ini waktunya saya mulai ikut berkorban. Walaupun sudah jauh terlambat, tapi seperti kata pepatah “Better late than never”.

Sekarang, satu – satunya yang bisa saya lakukan adalah membenuk tekad dan keinginan untuk berubah. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Kitamura dalam chapter 39 di dalam manga, “There’s a single factor that is annoying, which renders all the analysis and planning from hard work meaningless, it’s a Men’s Determination”.

Boku Dake ga Inai Machi review


Walaupun belum sepenuhnya jelas, tapi rasanya saya mulai memiliki “Men’s Determination” milik saya sendiri.

Boku Dake ga Inai Machi Review


Untuk mengakhiri artikel ini, saya akan membagikan sedikit review anime Erased atau Boku Dake ga Inai Machi. Bila kalian suka anime – anime dengan pertarungan intense, tentunya ini bukan anime yang tepat sebab Erased bergenre Drama, psychological, supernatural dan Mystery.

Tapi meskipun bisa dibilang anime dan manga yang kurang terkenal, khususnya di Indonesia, tetapi Boku Dake ga Inai Machi masih menjadi salah satu manga terbaik dari tahun 2016 ke atas. Sayangnya, manga, anime, live action dan Netflix adaptation memiliki review yang berbeda – beda.

Untuk versi manga-nya sudah jelas, merupakan versi terbaik untuk menikmati Erased. Namun tidak semua orang suka membaca manga dalam format hitam putih. Di sisi lain, versi anime Boku Dake ga Inai Machi juga bagus. Hanya saja jika dibandingkan versi manga- nya, versi anime memiliki fase yang terlalu cepat dan banyak bagian hingga tokoh penting yang dibuang bahkan ending yang berbeda dengan versi manga. Namun 10 episode pertama dari versi anime-nya sangat menarik.

Sedangkan untuk versi Netflix adaptation – nya, memiliki ending yang sama dengan versi manga. Hanya saja, pengembangan karakter dalam 10 episode pertama terkesan lemah, sehingga meskipun dengan ending yang sama, “Feel” yang kalian dapatkan akan berbeda dan cenderung biasa saja.

Untuk versi movie live actionnya sendiri saya belum tahu. Namun banyak review yang mengatakan lebih buruk dari versi anime – nya.

Jadi bila kalian ingin tahu tentang Boku Dake ga Inai Machi, mungkin kalian bisa tonton 10 episode pertama dari anime, kemudian menonton sisanya dari versi Netflix. Bila kalian ingin mendapatkan “feel” yang lebih dalam, maka baca versi manga – nya setelah menonton kedua versi tersebut.

Jadi seperti itulah sinopsis dan pesan yang bisa kita dapatkan dari Boku Dake ga Inai Machi serta sedikit review. Jika kalain punya waktu luang, apalagi di saat - saat self quarantine seperti ini, mungkin Erased bisa menemani hari - hari kalian.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments